NIB2510220049215
Software

Refactoring Monolith ke Microservices: Saatnya Membangun Arsitektur Lebih Fleksibel

Refactoring monolith ke microservices memungkinkan perusahaan meningkatkan skalabilitas dan fleksibilitas aplikasi. Namun, apakah perlu melakukan refactoring seperti itu?

16 Agustus 2026 3 menit bacaOleh DIGITAL-IT Newsroom
Bagikan: WhatsApp X Facebook
Refactoring Monolith ke Microservices: Saatnya Membangun Arsitektur Lebih Fleksibel

Refactoring Monolith ke Microservices: Apa itu?

Monolith adalah aplikasi yang merupakan satu unit besar yang berjalan pada satu mesin. Sementara itu, microservices adalah arsitektur aplikasi yang terdiri dari beberapa layanan kecil yang bekerja sama untuk melakukan tugas-tugas yang spesifik.

Mengapa perlu melakukan refactoring monolith ke microservices? Ada beberapa alasan, antara lain:

  • Meningkatkan skalabilitas aplikasi
  • Meningkatkan keamanan
  • Meningkatkan fleksibilitas aplikasi
  • Mengurangi biaya perawatan

Riset dan Statistik

Menurut sebuah riset yang dilakukan oleh DZone, 62% developer mengalami masalah dengan monolith yang kompleks. Sementara itu, 71% developer menduga bahwa microservices dapat meningkatkan efisiensi dalam pengembangan aplikasi.

Kapan Perlu Melakukan Refactoring?

Refactoring seperti apa saja yang dapat dilakukan? Beberapa contoh refactoring yang dapat dilakukan adalah:

  • Mengidentifikasi layanan yang dapat dipisahkan
  • Menggunakan bahasa pemrograman yang lebih ringan
  • Menggunakan framework yang lebih fleksibel
  • Menggunakan containerisasi untuk meningkatkan efisiensi

Refactoring monolith ke microservices bukanlah proses yang mudah dan memerlukan waktu yang lama. Namun, manfaat yang didapatkan dapat sangat besar, seperti meningkatkan skalabilitas, keamanan, dan fleksibilitas aplikasi.

Tag:#software development#arsitektur aplikasi#refactoring
Bagikan: WhatsApp X Facebook